-->

Survei Cyrus Network: Elektabilitas Jokowi Masih Unggul 20 Persen Dari Prabowo

Survei Cyrus Network: Elektabilitas Jokowi Masih Unggul 20 Persen Dari Prabowo

Survei Cyrus Network: Elektabilitas Jokowi Masih Unggul 20 Persen Dari Prabowo


Lembaga Survei Cyrus Network merilis hasil survei elektabilitas antara pasangan calon nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin dan pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Hasilnya, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf masih unggul di atas pasangan Prabowo-Sandi.

Dalam simulasi surat suara, pasangan capres-cawapres nomor 01 Jokowi-Ma'ruf Amin unggul dengan presentase sebesar 57,5 persen, sementara capres-cawapres nomor 02, Prabowo-Sandiaga Uno mendapatkan 37,2 persen. Responden yang belum menutuskan 3,7 persen dan yang tidak menjawab 1,6 persen.

“Selisih antara Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi masih sekitar 20 persen," ujar CEO Cyrus, Hasan Asbi di Hotel Akmani Jakarta, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Kamis (28/2/2019).

Tingkat elektabilitas tersebut juga diambil dengan pertanyaan 'apakah responden telah tetap dalam memilih?'. Hasilnya, sebanyak 77,5 persen responden telah menetapkan pilihannya dalam pemilu 2019.

Hal tersebut terdiri dari 47,8 persen pemilih tetap Jokowi, dan 29,7 persen pemilih tetap Prabowo. Hasan mengatakan hal ini membuat tingkat kepastian pemilih memilih Jokowi lebih tinggi dibanding Prabowo.

"77,5 persen bilang sudah tetap dan sekitar 15,1 persen itu masih mungkin berubah dan yang tidak menjawab 7,4 persen ," terang Hasbi.

Dalam rangkaian survei tersebut, Hasan juga menyatakan, kontestasi Pilpres saat ini riuh dan jenuh dalam "pertarungan udara" melalui pemberitaan dan media sosial, namun cenderung kosong dalam "pertarungan darat".

"Pilpres sudah jenuh di udara, namun kosong di darat," kata Hasan.

BACA JUGA : Di Hotel Maqna Gorontalo, "Keluarga Uno" Deklarasi Dukung Jokowi-Amin



Hasan mengatakan berdasarkan surveinya, hanya sekitar 40 persen pemilih yang dapat terkoneksi dengan informasi dari telepon genggam, baik itu media sosial maupun aplikasi pesan berantai seperti WhatsApp dan Line. Sedangkan sisanya, 60 persen pemilih belum bersentuhan dengan sumber-sumber informasi seperti ini.

"Kampanye politik di media sosial memang terlihat ramai dan panas, begitu juga di pesan berantai. Tapi populasi orang yang terlibat tidak berkembang dan jenuh, " jelas dia.

Hasan mengatakan, hanya 40 persen pengguna Facebook yang mengaku aktif menyebar pesan politik di Facebook. Sedangkan untuk WhatsApp, hanya 28 persen pengguna yang mengaku aktif menyebar pesan politik.

Hasan menyampaikan berdasarkan surveinya, kurang dari 50 persen pengguna media sosial ataupun aplikasi pesan yang terlibat secara aktif menyebarkan pesan-pesan politik.

Begitu juga yang berpartisipasi aktif untuk meluruskan hoaks dan fitnah yang bertebaran di media sosial.

"Ini bukti bahwa keriuhan politik di media sosial dan pesan berantai sudah tidak berkembang lagi. Tidak menambah audiens atau menambah suara. Hanya sekadar mempertahankan isu saja,” kata Hasan.

Dari survei itu, Hasan juga mengatakan, sebanyak 77 persen pendukung Jokowi-Ma'ruf Amin menyatakan teman-temannya di media sosial maupun aplikasi pesan adalah sesama pendukung Jokowi-Amin.

Begitu juga dengan pendukung Prabowo-Sandi, di mana 74 persen di antaranya juga merasa lebih banyak bersama-sama dengan individu atau kelompok yang memiliki aspirasi sama di media sosial maupun aplikasi pesan.

Menurut Hasan, ceruk yang belum optimum disasar kedua kubu adalah kelompok masyarakat yang tidak terkoneksi dengan riuh rendah kampanye politik media sosial, yang jumlahnya sebesar 60 persen pemilih.

"Sungguh disayangkan, kerja dari tim pemenangan kedua pasang calon justru belum menyentuh ceruk terbesar dari proporsi pemilih yang ada. Pekerjaan rumah terbesar dan terpenting bagi kedua timses ke depannya, justru memaksimalkan ceruk perang darat ini,” kata Hasan.

sumber : liputan6.com
Powered by Blogger.