-->

MENGHARUKAN !! Berawal dari terlilit hutang, inilah asal usul BRIPKA Saledi jadi pemulung. MIRIS..


Berita tentang Bripka Seladi, anggota Polres Malang Kota yang memiliki bisnis sampingan sampah mendapatkan reaksi dari beberapa pihak.Hal itu pula membuat Seladi dipanggil pimpinannya di Mapolres Malang Kota.

Seladi menceritakan jika dirinya terhimpit kebutuhan ekonomi.Tetapi, ia tidak mau mencari tambahan pendapatan dengan memanfaatkan pekerjaannya sebagai polisi.Ia bercerita, bertahun-tahun lalu, memiliki utang sebesar Rp 150 juta.

Ia ketika itu sudah memiliki bisnis sampingan yakni jual beli barang.
"Barang yang saya jual, macam-macam, ada mebel juga televisi. Kemudian saya ditipu orang, barang dibawa tetapi tidak dibayar," ujarnya. Padahal untuk itu, ia harus memodalinya dengan meminjam ke koperasi kepolisian.

BACA JUGA : 

Sampai akhirnya, ia memilih sampah sebagai ladang bisnisnya. Ia bekerja sampingan sebagai pemulung sejak tahun 2004.Ia berkeliling memakai sepeda onthelnya untuk mencari sampah. Sampai delapan tahun silam, ia menempati bangunan kosong yang kini menjadi gudang sampahnya di Jalan Dr Wahidin.

Seladi menjadi polisi sejak tahun 1977 Sejak 16 tahun silam, ia berdinas di Urusan SIM Kantor Satuan Penyelenggara Administrasi (Satpas) Polres Malang Kota.

Lahan yang basah, demikian anggapan orang.Tetapi Seladi memilih bekerja sampingan untuk menambah penghasilannya demi mencukupi kebutuhan keluarga.Ia berbisnis jual beli barang, sampai akhirnya cocok berbisnis sampah."Sudah jadi anggapan orang, tidak minta pun lho diberi. Seperti contoh, orang nyari SIM, tiga kali tidak lolos. Mereka ada saja yang minta diloloskan sambil ngasih uang."

"Sebenarnya, itu pencari SIM itu bukannya tidak bisa mengikuti ujiannya, tetapi grogi karena ditunggui polisi. Kok ditunggui, orang awam saja kalau ketemu polisi di jalan grogi," tuturnya.

Akhirnya para pencari SIM, ia ajak bicara baik-baik dan diberi pengarahan, termasuk diminta tidak takut dalam menjalani ujian praktik.

Ia memang tidak meloloskan pencari SIM yang memang tidak layak.
Kalau ada yang memberinya uang terimakasih, ia menolaknya atau meminta si pemberi menyerahkannya ke masjid.

"Kalau umpama sehari dikasih uang Rp 50.000 kali 20 orang misalnya dikalikan 16 tahun, hasile lek isa mbendung kali Brantas a (bisa membendung sungai Brantas). Bisa beli rumah di Araya (salah satu perumahan elit di Kota Malang). Tetapi saya tidak ingin, karena itu bertentangan dengan hati nurani," terangnya.Utang Rp 20 Juta Seladi memilih hidup sederhana, dengan gaji polisinya dan penghasilan dari sampah.

Kini setahun menjelang pensiunnya, Seladi masih memiliki utang sebesar Rp 20 juta ke bank dan koperasi. Hal itu juga ia kemukakan kepada pimpinannya.Ia tidak malu menceritakan kisahnya kepada pimpinan, karena apa yang ia lakukan adalah pekerjaan halal.Ia juga tidak pernah mendahulukan pekerjaan mencari dan memilah sampah.
Powered by Blogger.