-->

Bersyukur Bisa Menjadikan Hidup Kita Bahagia



Bersyukur adalah menerima segala hal dan keadaan yang terjadi pada kita saat ini sebagai yang terbaik. Kalau kita baru bisa punya motor, maka itu artinya kita baru pantas bagi sebuah motor. Jika kita meningkatkan kerja kita, meningkatkan prestasi,  meningkatkan sedekah dan amal kita, barang kali saja kita jadi pantas untuk memiliki sebuah mobil.
Bersyukur itu mencakup segala hal, entah itu keluarga, hubungan sosial, karier atapun pekerjaan.

Betapa dekat kebahagiaan bagi mereka yang menetapi do'a ini:

اَللَّهُمَّ قَنِّعْــنِيْ بِـمَا رَزَقْــــتَــنِيْ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَاخْلُفْ عَلَى كُـلِّ غَائِـبَةٍ لِيْ بِـخَيْر
“Ya Allah, jadikanlah aku merasa qana’ah (merasa cukup, puas, rela) terhadap apa yang telah engkau rezeqikan kepadaku, dan berikanlah barakah kepadaku di dalamnya, dan jadikanlah bagiku semua yang hilang dariku dengan yang lebih baik.”

Mengingat sejenak sabda Rasulullah,

قَدْ أفْلَحَ مَنْ أسْلَمَ وَرُزِقُ كَفَا فًا، وَ قَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ
"Beruntunglah orang yang memasrahkan diri, dilimpahi rezeqi yang sekedar mencukupi dan diberi kepuasan oleh Allah terhadap apa yang diberikan kepadanya." HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Baghawi.

Betapa sederhananya kebahagiaan. Ingatlah bagaimana Rasulullah bergurat pipinya karena alas tidur kasar. Hari ini betapa banyaknya orang yang memiliki tempat tidur mewah, tapi tak pernah ia rasai tidur yang nikmat. Betapa berbedanya

Tengoklah Rasulullah. Betapa sederhana makannya. Tak menuntut syarat yang berat, justru menjadikan makanan sederhana itu lebih nikmat. Sungguh, ketika engkau tak meninggikan syarat terhadap apa yang engkau reguk dari dunia ini, semakin mudah engkau rasai kebahagiaan. Dan apakah yang lebih berharga daripada ganti yang lebih baik; ganti yang lebih membawa kebaikan atas apa-apa yang terlepas dari kita?

Maka do'a riwayat Al-Hakim (beliau menshahihkannya) yang dicontohkan oleh Rasulullah ini merupakan kunci agar kita mampu bersikap secara tepat terhadap dunia: (1) qana'ah terhadap rezeqi dari-Nya, (2) barakah atas rezeqi yang kita terima dan (3) ganti yang lebih baik (bukan lebih banyak) atas apa-apa yang terlepas dari kita. Sungguh, rezeki yang tak barakah, amat jauh dari kebaikan.Jika tiga hal ini ada pada kita, maka semoga lisan kita mampu memanjatkan do'a yang menyempurnakan pembersihan jiwa kita. Semoga.

Do'a itu (semoga kita dapat menghayati sepenuh kesungguhan.) adalah:

اَللَّهُمَّ إنِّي أعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَ الْحَزَنِ،وَ الْعَجْزِ وَ الْكَسَلِ،وَالْبُخْلِ وَ الْجُبْنِ،وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَ غَلبَةِالرِّجَالِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari (bahaya) rasa gundah gulana dan kesedihan, (rasa) lemah dan malas, (rasa) bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penguasaan orang lain.”

Inilah do'a yang memohon pertolongan Allah Ta'ala agar kita mampu mengalahkan hasrat untuk mengistirahatkan badan di saat ada kebaikan yang seharusnya kita kerjakan; memohon kekuatan untuk TIDAK berpelit dalam mengulurkan rezeki kepada orang lain; serta kelapangan hati untuk memberi kan jasa kita yang membawa kebaikan.

Maka, jika engkau berkeinginan untuk berkelimpahan rezeki agar waktu istirahatmu lebih banyak dan engkau dapat bersantai-santai kapan pun engkau mau, sesungguhnya engkau telah mengingkari do'a yang dituntunkan oleh Rasulullah ini. Dan jika engkau pergi ke sana kemari untuk menyeru manusia agar bersegera perkaya diri sehingga dapat bermalas-malasan, sadarilah bahwa mereka sedang mengajak manusia untuk menjauh dari sunnah dan menghindar dari kebaikan. Padahal bersama sunnah ada barakah.

Semoga kita terhindar dari ghurur (terkelabui) disebabkan angan-angan kita sendiri. Marilah kita memanjatkan do'a kepada Allah Ta'ala:

 اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

“Ya Allah, tunjukilah kami bahwa yang benar itu benar dan berilah kami rezeki kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukilah kami bahwa yang batil itu batil, serta limpahilah kami rezeki untuk mampu menjauhinya.”

Semoga kita tak terpedaya oleh persepsi kita sendiri. Sungguh, kebenaran itu bukan bergantung pada persepsi kita. Baik dan buruk juga bukan bergantung kepada persepsi kita. Bukan bergantung pada cara pandang kita. Hari ini, ketika banyak manusia menyerukan bahwa yang paling penting adalah persepsi kita tentang sesuatu, marilah kita ingat kembali do'a ini. Di masa yang semakin jauh dari kehidupan Rasulullah ini, semoga Allah Ta'ala limpahi kita hidayah agar tidak mudah takjub pada kebanyakan perkataan manusia yang terlepas dari Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah.
Powered by Blogger.